Tampilkan postingan dengan label Citizen Journalism. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Citizen Journalism. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Oktober 2014

Jalan Malioboro, Sore 6 Oktober 2014

Selasa 7 Oktober 2014 Kota Jogja tercinta genap berusia 258 tahun. Untuk memeriahkan hari ulang tahun kota Jogja Pemerintah Kota mulai 19 September – 7 Oktober 2014 mengadakan berbagai macam acara seperti Festival Seni 45 Kelurahan, Pemasangan Lampion, Gebyar Pasar, Garebeg Mall, dll.

Senin 6 Oktober 2014 jam 10.00 WIB melalui jejaring sosial twitter Saya mendapati info bahwa sore jam 3 akan diadakan atraksi kesenian di titik 0 km Jogja. Tanpa pikir panjang Saya mengagendakan untuk melihat acara tersebut. 

Siap-siap untuk mengabadikan momen. Karena satu-satunya alat yang Saya punyai untuk mengambil gambar cuma Hp (Tab) maka Saya pun meyiapkannya dengan baik diantaranya mengisi baterai agar tidak kehabisan.

Berangkat dari rumah habis Ashar, kira-kira jam 3 Sore. Sampai di lokasi jam 15.30. Saya parkirkan motor di sebelah Kios Buku sebelah Kantor Pos Besar. Sebelumnya Saya tanya kepada orang sekitar apa benar akan ada atraksi kesenian di Jalan Malioboro, jawabannya “iya”. Saya pun menyeberang menuju jalan Malioboro. 

Di sepanjang jalan Malioboro ini terdapat beberapa karya instalasi dan patung yang beraneka macam. Ada bentuk Gajah, Kotak telepon umum mirip di Eropa-eropa, instalasi Gulali, dll. Tak selang berapa lama muncullah segerombolan orang keluar dari Benteng Vredeburg. Memanggul karya instalasi dan diarak menuju titik 0 km atau perempatan Kantor Pos Besar Jogja.

Inilah beberapa foto keramaian situasi di jalan Malioboro pada waktu itu.



Tiga foto diatas adalah karya instalasi Ismanto Gadhung Mlati diberi judul "BINGUNG" .

Keterangan mengenai karya tersebut adalah berdasar atas catatan peristiwa kekinian yang akhirnya menekan kejiwaan. Kegelisahan ini dilahirkan dalam sebuah karya instalasi yang berbentuk kepala manusia dengan mengernyitkan dahi dan muncul beberapa tangan dari kepala yang menunjuk segala arah mengisyaratkan sebuah kebingungan fikir disertai beberapa warna yang melambangkan bermacam-macam nafsu.

Dalam moment ini, instalasi BINGUNG sebagai properti "performance art" yang melibatkan kurang lebih 50 orang dengan dandanan kain dan "body painting". 

Kemudian di bawah ini salah satu kegiatan yang ada di sekitar titik 0 km Jalan Malioboro, yakni melukis yang dilakukan beberapa artis pelukis.


 
Terakhir Saya sebagai salah satu warga Jogja ingin mengucapkan: 
"Selamat ulang tahun Kota Jogja yang ke-258. Semoga menjadi Kota yang bersih, tidak macet, menjadi teladan bagi kota-kota lain di Indonesia. Bisa berpacu dengan kemajuan jaman dengan tidak meninggalkan nilai-nilai kebudayaan Jawanya."



Selasa, 04 Februari 2014

"Layang Swara" Pameran Radio Lama di BBY (re-upload)

Sebuah catatan dari pameran yang bertajuk “Pameran Radio Lama: Layang Swara” yang digelar tanggal 13-22 September 2013 di BBY Jl. Suroto 2 Kotabaru, Yogyakarta.

Sesuai namanya “Pameran Radio Lama”, menampilkan koleksi-koleksi radio lama dari para kolektor. Ruangan di-setting sedemikian rupa dikelompokkan menurut tahun pembuatan radio mulai tahun 40an, 50an dan 60an.

Bertemu dengan salah satu pemilik yang koleksinya juga dipamerkan, Bp. Hendro namanya. Beliau menerangkan bahwa koleksi radio yang paling lama adalah Radio buatan Belanda yang dibuat tahun 1920 merk Philips dan biasa disebut tipe “Bandosa” (bentuknya mirip Bandosa) atau Katredal, dengan pemilik atas nama Bp. Handoka. Lagi menurut beliau, keberadaan radio tak akan pernah tergantikan seiring perkembangan jaman. Tanpa radio pembacaan (berita) proklamasi tak akan bisa menyebar ke seluruh Indonesia (bahkan dunia). Sambil menerangkan tentang sejarah singkat radio pada jaman dulu, beliau menujukkan salah satu barang yang dipamerkan, yaitu sebuah pemutar piringan hitam. Diputarnya lah alat tersebut dan mendadak BBY berubah seperti suasana jaman dulu. Perlu dicatat, bahwa semua koleksi yang dipamerkan di BBY masih bisa berfungsi normal.

Pada jaman penjajahan Jepang, kepemilikan sebuah radio diatur sangat ketat. Saya sempat melihat secarik kertas berwarna coklat yang berisi tentang “aturan” tersebut, berikut cuplikannya:

Ma’loemat No. 32 “Orang-orang jang mempoenjai pesawat radio penerima, haroes membawa barangnja itoe ke tempat yang telah ditentoekan dalam fatsal II, menoeroet hari tanggal seperti di bawah ini, dan haroes diatur seperloenja” (Pemerintah Balatentara Dai Nippon. Di Jokjakarta. Jokjakarta, 19 Juni 2602)

Pada jaman dulu radio juga kena pajak, terlihat di sebuah etalase secarik lembar bukti pembayaran pajak radio yang ditempeli (mirip) meterai.

Bagi teman-teman yang penasaran dengan pameran tersebut atau sekedar ingin melihat-lihat wujud radio jaman dulu, besok kesempatan terakhir Minggu (22/9) tempat di Bentara Budaya Yogykarta (BBY).

Berikut beberapa foto radio lama yang dipamerkan.
Radio "Bandosa" atau Katredal, koleksi yang paling tua.
Suaranya "nge-soul".
Salah satu cover Piringan Hitam "Senja Kaimana"

 Gramophone #1
Gramophone #2
Bukan hanya radio, Poster dengan cita rasa jaman dulu juga melengkapi di setiap sudut ruang pameran.
Daleman radio lama (radio tabung).
Radio generasi baru - radio transistor tahun 60an.
Upload pertama di sini klik
(Teks dan foto oleh Arif Nur Rokhman)

Sabtu, 17 Agustus 2013

Upacara HUT RI Tempoe Doeloe ala Pecinta Sepeda "Onthel" Jogja

Bertempat di Museum Pusat TNI – Udara DHARMA WIRATAMA beberapa komunitas pecinta sepeda tua Jogja mengadakan upacara untuk memperingati HUT RI ke-68 (17/8). Berkostum khas para pejuang tempo dulu dan sepeda tuanya mereka memenuhi halaman depan Museum. Upacara dimulai jam 8.00 WIB dan berakhir sekitar jam 8.45 WIB. Layaknya upacara seperti biasanya, ada pengibaran bendera, mengheningkan cipta, dan pembacaan pidato oleh pemimpin upacara.

 Gambar 1. Penghormatan kepada pemimpin upacara
 Gambar 2. Pasukan pengibar bendera
Gambar 3. Pemimpin upacara mengecek pasukan upacara
Selepas upacara, diadakan atraksi teatrikal peperangan yang mengisahkan secara singkat perjuangan para pejuang mengusir penjajah (Kompeni).
Gambar 4. Aksi teatrikal #1
Gambar 5. Aksi teatrikal #2 
 Gambar 5. Aksi teatrikal #3
Kemudian mereka berkonvoi menuju Gedung Agung di Malioboro untuk mendengarkan detik-detik Proklamasi.
Gambar 6. Berkonvoi melewati Tugu
 Melewati Tugu Jogja, Jl. Mangkubumi, Jl. Malioboro dan tak segan-segan sesekali mereka meneriakkan ”MERDEKA!”.

Senin, 01 Maret 2010

Outbond: Melatih Kekompakan, Ketangkasan, dan Mencintai Lingkungan


Kawasan pegunungan yang menawarkan kesejukan dan pemandangan yang menyegarkan mata selalu asik untuk dikunjungi. Entah itu untuk sekedar refreshing atau mengadakan kegiatan yang sifatnya mendidik. Kontur pegunungan yang naik dan turun tidak membuat langkah kaki setiap pengunjung untuk diam begitu saja, terus dan terus walau sesekali harus istirahat untuk sekedar menambah tenaga yang hampir terkuras.

Minggu, 28 Februari 2010 sekelompok perkumpulan Pemuda yang menamakan As-Salma (Ajang Sillaturrokhim Remaja Islam Lintas Masjid) dari Banguntapan Bantul mengadakan aktifitas outbond di kawasan lereng pegunungan tepatnya di Kalikuning, Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) Sleman, Yogyakarta. Kegiatan insidental ini ditujukan khusus bagi anak-anak untuk mengisi hari libur. Sebenarnya acara ini diluar ekspektasi kami selaku panitia. Acara yang sebelumnya hanya menargetkan sekitar 50 anak ternyata sampai deadline jumlah peserta mencapai 80an anak-anak belum termasuk para pendamping dan panitia. Diikuti oleh perwakilan empat Remaja Masjid, yakni Karangturi, Kuncen, Manggisan, dan Jogoragan.

Dalam pelaksanaannya, peserta yang terdiri dari anak-anak ini dibagi dalam kelompok-kelompok dan setiap kelompok terdiri dari 5-6 anak. Kemudian mereka akan melewati 5 pos, disetiap pos tersebut disediakan aneka permainan.



Pos pertama peserta akan memainkan permainan bagaimana meloloskan jeratan tali di tangan tanpa memotong tali tersebut. Pos kedua peserta dihadapkan dengan permainan ”Jaring Laba-laba”, yakni peserta harus bisa meloloskan diri masuk ke jaring-jaring tersebut tanpa menyentuh jaring-jaring. Pos ketiga permainan ”Jembatan Sambung”, yakni peserta harus bisa meloloskan sebutir kelereng sampai ke finish tanpa jatuh dengan menggunakan bilah-bilah bambu yang terus disambung-sambung.







Kelelahan mulai tampak di wajah mereka setelah menyelesaikan 3 permainan dimasing-masing pos. Mereka masih mempunyai jatah 2 permainan lagi sebelum acara ini selesai. Tetapi rasa lelah itu berubah menjadi keceriaan setelah anak-anak melewati rute sungai kecil. Bisa dibayangkan kalau anak-anak sudah bersentuhan dengan air, apalagi air itu dingin dan masih bersih, senangnya bukan main.



Kemudian beranjak ke pos ke-4, peserta dihadapkan dengan permainan lomba isi air dimana tempat airnya diberi lubang-lubang kecil. Permainan ini membutuhkan kerja sama ekstra dalam menutup lubang dan kecepatan dalam mengisi air. Karena masih berhubungan dengan air, keceriaan dan kekonyolan khas anak-anak pun kembali terluapkan di sini.







Pos ke-5 atau pos terakhir, di pos ini peserta akan memainkan permainan memasukkan ranting ke dalam botol. Ranting yang berbentuk lurus ini akan diikat ke badan para peserta. Satu peserta sebagai komando untuk memberi arahan kepada temannya untuk memasukkan ranting ke dalam botol yang telah dipersiapkan. Siapa cepat dialah pemenangnya.



Waktu hampir pukul 1 siang ketika hampir seluruh permainan diselesaikan oleh para peserta, dan nampaknya rasa lelah sudah tidak dapat lagi ditawar. Akhirnya sekitar pukul 2 siang kami pun kembali pulang.


Kegiatan di alam bebas seperti outbond ini sangat bermanfaat, tidak hanya untuk anak-anak, tetapi siapa saja tergantung level yang diterapkan dalam setiap permainan. Selain manfaat yang terkandung dalam tiap permainan, secara tidak langsung peserta akan dididik untuk lebih peka terhadap lingkungan, lebih mencintai lingkungan dengan tidak membuang sampah di sembarang tempat.
(teks dan foto oleh Arif NR)

Minggu, 13 Desember 2009

Semarak Malam Takbir


Gemuruh suara drum band dan alat musik tradisional terdengar keras ketika hampir seluruh peserta pawai takbir memasuki halaman Masjid Agung Bantul, Yogyakarta. Suasana semakin meriah ketika para peserta mengenakan beraneka macam pernak pernik kostum, seperti kostum ala Jawa, kostum ala Mumi, dan kostum mirip prajurit Romawi.


Tepatnya tanggal 29 November 2009, mengambil start di Masjid Agung Bantul dan finish di kompleks Kantor Bupati Bantul. Puluhan kelompok perwakilan Remaja Masjid (Risma) atau pemuda-pemudi di kawasan Bantul, Yogyakarta mengikuti event tahunan yang diadakan oleh JAMASBA (Jamaah Masjid Bantul) dalam rangka menyemarakan Idul Adha 1430 H.


Warga sekitar juga tak kalah, mereka pun tumpah ruah mengisi sepanjang jalan protokol tempat berlangsungnya pawai takbir. dari orang tua, remaja dan bahkan anak-anak tak ingin ketinggalan untuk menyaksikan.


Lomba Pawai Takbir ini dibagi menjadi dua kategori, kategori anak-anak dan kategori umum (dewasa). Untuk kategori anak-anak tercatat 17 kelompok, sedangkan kategori umum diikuti oleh 36 kelompok. Acara dimulai sekitar pukul 19.00 WIB dengan memberangkatkan kategori anak-anak terlebih dahulu dan setelah selesai baru kategori umum.


Di sepanjang rute yang mereka lalui, mereka harus meneriakkan “lafadz” takbir, karena takbir ini menjadi persentase tertinggi dalam penghitungan poin selanjutnya akan diakumulasikan dengan kriteria penilaian lain seperti kerapian dan mascot atau atribut yang dikenakan. Ditempat tertentu yang telah disediakan oleh panitia peserta takbir boleh mempertunjukkan kebolehannya dalam merangkai sebuah koreografi atau biasa disebut display (showmanship).


Selain memperebutkan juara umum, panitia juga membagi dalam beberapa macam kategori dalam perlombaan ini. Antara lain, kategori takbir, kategori musik, dan kategori display. Masing-masing kategori terdapat juara 1, 2,dan 3.


Setelah berlangsung kurang lebih selama lima jam, pukul 24.00 WIB acara ini selesai. Artinya hampir seluruh peserta telah menunjukkan kebolehannya masing-masing, entah itu dalam bertakbir ataupun menunjukkan kebolehannya dalam menampilkan display. Seperti yang dikemukakan oleh panitia bahwa pengumuman pemenang akan diumumkan bersamaan dengan acara memperingati tahun baru hijriyah, yakni tanggal 17 Oktober 2009. Semua peserta pun berharap kelompok merekalah yang akan menjadi pemenangnya. Apapun hasilnya nanti, yang jelas acara ini telah menyuguhkan tontonan menarik bagi warga Bantul khususnya dan warga Yogyakarta pada umumnya.

more photos klik !

Selasa, 25 Agustus 2009

Jelajah Wisata "The Spirit Of Merapi"

Tepatnya tanggal 9 Agustus 2009 bertempat di area wisata Tlogo Putri Kaliurang, saya dan teman saya bertiga mengikuti acara Jelajah Wisata yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Sleman, membayar Rp. 25.000 mendapat kaos, snack, undian doorprize.

Mengambil rute Tlogo Putri-Ledoklutung-Jeblokan-Bunker Kaliadem-Kinahrejo (mbah Maridjan)-Kaliurang (Tlogo putri), jarak yang ditempuh sekitar 10 km. Panitia memberangkatkan peserta sekitar jam 7.30 dengan diikuti total peserta kurang lebih 1000 orang. Dengan jumlah tersebut Kaliurang seakan dipenuhi lautan biru-warna kaos para peserta. Panitia mencatat acara tersebut tidak hanya diikuti masyarakat lokal tetapi juga diikuti warga Negara Jepang, Korea, Belanda, dan Papua Newgini

Selain menikmati keindahan alam yang disajikan di Kaliurang peserta juga berharap mendapat undian, karena panitia menyediakan hadiah utama berupa 2 buah Motor Suzuki Smash selain hadiah hiburan lainnya. Kami pun juga berharap demikian misal tidak mendapat hadiah utama semoga mendapat hadiah hiburan lainnya.

Awal pemberangkatan begitu sesak seperti antri sembako, tetapi seiring perjalanan waktu yang panjang akhirnya jarak peserta satu dengan yang lain agak longgar dikarenakan peserta mulai kelelahan dan beristirahat. Selang berapa lama pos pertama mulai tampak, trakking ini nantinya akan melewati pos 1 sampai 4. Di setiap pos peserta harus mencap lembaran yang sudah disediakan panitia untuk masing-masing peserta, dengan begitu peserta tidak akan curang dan harus menempuh rute yang telah ditentukan panitia.

Rute yang telah ditentukan sebenarnya tergolong mudah, kalau dilihat cuma berputar-putar jadi seakan-akan terasa jauh. Tapi memang dengan jarak segitu peserta cukup dibuat kelelahan termasuk saya dan teman saya. Melewati pos ketiga peserta tidak menyianyiakan kesempatan untuk menikmati sejenak pemandangan sekitar bunker Kaliadem yang dulu sempat memakan korban ketika terjadi letusan gunung Merapi.

Akhirnya setelah berjalan kurang lebih 4 jam sampailah kami di pos keempat dan hampir dekat dengan finish. Jam menunjukkan pukul 11.30 dan dari dekat sudah terdengar suara pembacaan undian untuk hadiah hiburan, bergegas kami langsung mendekati panggung terdekat dan sudah berkumpul hampir semua peserta, berharap dapat hadiah utama.

Sebelum dibacakan undian doorprize-nya, panitia memberi kategori khusus yakni peserta tertua, termuda, dan peserta atau kelompok yang peduli akan kebersihan, hal ini dibuktikan dengan siapa yang paling banyak memungut sampah sepanjang perjalanan trakking. Untuk kategori tertua tercatat peserta dengan umur kurang lebih 90 tahun.

Selain 2 buah Suzuki Smash sebagai hadiah utama panitia juga menyediakan 2 buah magicom, 3 buah setrika, sepeda MTB, DVD player, TV berwarna, Hp dan uang sebesar Rp. 500.000.

Waktu yang dinanti pun akhirnya tiba, panitia segera membacakan siapa yang berhak membawa pulang Suzuki Smash. Tersebutlah salah satu peserta yang berhak membawa pulang motor tersebut, Saudara Bp. Didik Herlambang dari Turi, Sleman, secara simbolis diberikanlah kunci “raksasa” sebagai tanda terima motor dan tentu saja pajak ditanggung peserta. Akhirnya dari kami bertiga tidak mendapat apa-apa tapi tetap, kami pulang merasa tidak rugi yang penting kami sudah merasakan secara fisik. Bangun pagi-pagi dari rumah menerobos dinginnya udara pagi dan itupun saya rasakan sangat menyenangkan. (Arif)

Motret 35mm Belum Mati!

Siapa bilang hobi motret dengan kamera manual menggunakan film 35mm sudah mati? memang sudah tidak seramai dulu, namun komunitas penyuka m...

Cari Blog Ini