Tampilkan postingan dengan label My Experience. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Experience. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Oktober 2014

Jalan Malioboro, Sore 6 Oktober 2014

Selasa 7 Oktober 2014 Kota Jogja tercinta genap berusia 258 tahun. Untuk memeriahkan hari ulang tahun kota Jogja Pemerintah Kota mulai 19 September – 7 Oktober 2014 mengadakan berbagai macam acara seperti Festival Seni 45 Kelurahan, Pemasangan Lampion, Gebyar Pasar, Garebeg Mall, dll.

Senin 6 Oktober 2014 jam 10.00 WIB melalui jejaring sosial twitter Saya mendapati info bahwa sore jam 3 akan diadakan atraksi kesenian di titik 0 km Jogja. Tanpa pikir panjang Saya mengagendakan untuk melihat acara tersebut. 

Siap-siap untuk mengabadikan momen. Karena satu-satunya alat yang Saya punyai untuk mengambil gambar cuma Hp (Tab) maka Saya pun meyiapkannya dengan baik diantaranya mengisi baterai agar tidak kehabisan.

Berangkat dari rumah habis Ashar, kira-kira jam 3 Sore. Sampai di lokasi jam 15.30. Saya parkirkan motor di sebelah Kios Buku sebelah Kantor Pos Besar. Sebelumnya Saya tanya kepada orang sekitar apa benar akan ada atraksi kesenian di Jalan Malioboro, jawabannya “iya”. Saya pun menyeberang menuju jalan Malioboro. 

Di sepanjang jalan Malioboro ini terdapat beberapa karya instalasi dan patung yang beraneka macam. Ada bentuk Gajah, Kotak telepon umum mirip di Eropa-eropa, instalasi Gulali, dll. Tak selang berapa lama muncullah segerombolan orang keluar dari Benteng Vredeburg. Memanggul karya instalasi dan diarak menuju titik 0 km atau perempatan Kantor Pos Besar Jogja.

Inilah beberapa foto keramaian situasi di jalan Malioboro pada waktu itu.



Tiga foto diatas adalah karya instalasi Ismanto Gadhung Mlati diberi judul "BINGUNG" .

Keterangan mengenai karya tersebut adalah berdasar atas catatan peristiwa kekinian yang akhirnya menekan kejiwaan. Kegelisahan ini dilahirkan dalam sebuah karya instalasi yang berbentuk kepala manusia dengan mengernyitkan dahi dan muncul beberapa tangan dari kepala yang menunjuk segala arah mengisyaratkan sebuah kebingungan fikir disertai beberapa warna yang melambangkan bermacam-macam nafsu.

Dalam moment ini, instalasi BINGUNG sebagai properti "performance art" yang melibatkan kurang lebih 50 orang dengan dandanan kain dan "body painting". 

Kemudian di bawah ini salah satu kegiatan yang ada di sekitar titik 0 km Jalan Malioboro, yakni melukis yang dilakukan beberapa artis pelukis.


 
Terakhir Saya sebagai salah satu warga Jogja ingin mengucapkan: 
"Selamat ulang tahun Kota Jogja yang ke-258. Semoga menjadi Kota yang bersih, tidak macet, menjadi teladan bagi kota-kota lain di Indonesia. Bisa berpacu dengan kemajuan jaman dengan tidak meninggalkan nilai-nilai kebudayaan Jawanya."



Jumat, 11 April 2014

Jadi KPPS Pemilu 2014

Untuk kesekian kalinya saya didapuk jadi KPPS lagi di Kampung saya – Karangturi Baturetno. Sebelum-sebelumnya memang saya selalu diajak ikut untuk jadi panitia pemungutan suara. Entah untuk pemilihan calon legislative, Presiden, atau bahkan di tingkat kelurahan untuk memilih Kepala Desa. Yah biasalah jadi wakil pemuda kampung, maklumlah saya orang yang gk neko-neko dan lempeng-lempeng aja :D.

Pemilu yang baru saja dilangsungkan (9 April 2014) tak beda jauh dengan pemilihan calon legislative pemilu sebelumnya. Pemilu untuk memilih wakil rakyat yang duduk di tingkat pusat (DPR), Provinsi (DPRD I), Kabupaten (DPRD II), dan DPD. Cuma yang menjadi kendala adalah bagi pemilih yang sudah tua dan tidak bisa membaca aka buta huruf. Rata-rata mereka memilih gambar partainya bukan calegnya langsung. Kartu suara yang gugur atau tidak sah, wajar pasti ada.

Permasalahan klasik yang selalu saja ada di setiap pemilu diselenggarakan adalah kurangnya sosialisasi atau kurang aktifnya pemilih untuk mengetahui bagaimana cara mencoblos atau berkenaan dengan penggunaan hak pilihnya. Misalnya seperti, boleh tidak pemilih yang tidak ber-KTP setempat menggunakan hak pilihnya. Nah inilah, akhirnya kami para KPPS “terpaksa” menolak mereka, soalnya pengurusan masalah itu harusnya bisa jauh-jauh hari dengan meminta lembar di kelurahan sebagai surat pengantar. Dikumpulkan sebelum jam 12.00 WIB dan penggunaan hak pilihnya setelah jam 12.00 WIB. Nanti masuk dalam DPT tambahan.

Waktu itu saya ditugaskan dibagian mengarahkan pemilih mana bilik yang kosong. Jadi ya… cuma duduk dan memantau pemilih sudah atau belum dalam menggunakan hak pilihnya. Kalau sudah saya bilang “Berikutnya, bilik 1 kosong”. Kemudian bagian pendataan memanggil pemilih untuk diberi lembar surat suara kemudian masuk ke bilik suara dan mencoblos.

Sebenarnya saya juga tidak 100% duduk, kadang berdiri mondar-mandir untuk mengurangi kebosanan. Yah bisa dibayangin aja, saya duduk di tengah-tengah TPS apa gk tengsin saya. Saya yang cakep, tidak sombong, baik hati, suka menabung, belum nikah lagi, pasti jadi POI (Point Of Interest) para warga, hahahaha…. santai Bro.

 Ketua KPPS TPS 27 Bp Nurjani membuka jalannya pemungutan suara.

Di TPS kami selesai melakukan penghitungan suara kira-kira Magrib dan Isya dilakukan rekap data kemudian menyalin ke lembar C1 yang lumayan banyak. Masing-masing untuk DPR, DPD, DPRD I, dan DPRD II. Lumayan “njlimet” (rumit) butuh konsentrasi ekstra. Bapak-bapak KPPS yang sudah lumayan berumur memang sudah “pasrah” dan berujar.

“Wah pemilu depan sepertinya saya angkat tangan. Saatnya yang muda-muda ambil bagian”.

Saya saja yang masih muda merasakan kelelahan yang teramat sangat. Kaki pegel, mata ngantuk, berkali-kali menguap. Tidak heran jika untuk KPPS pun diadakan cek kesehatan. Tapi sebenarnya cek kesehatan cuma teori saja, kenapa?. Saya datang ke Puskesmas cuma di kasih lembar bukti Surat Keterangan Dokter (SKD), tidak dicek sama sekali cuma formalitas surat yang sudah ditanda tangani oleh Dokter. Tidak heran jika ada berita, seorang anggota KPPS meninggal akibat kelelahan mengurusi surat suara. Nah, kalau kejadian seperti itu nanti siapa yang disalahkan?. Apakah yang meninggal itu benar-benar sudah dicek kesehatannya? nah…

M. Nurlianto, seorang penyandang tuna rungu di kampung kami sesaat setelah menggunakan hak pilihnya.

Kami selesai menjalankan tugas sebagai KPPS jam 23.30 WIB, itu juga sudah mengembalikan perlengkapan meja kursi yang dipinjam dari SD sebelah. Jadi jam 24.00 WIB saya sudah bisa rebahan di kamar dan sudah menerima honor juga. Honornya lumayan, bisa buat PP Jogja – Jakarta naik KA Ekonomi.

Rabu, 05 Maret 2014

Keselamatan dan Kesehatan di tempat Kerja (K3)

Seminar Nasional K3 di UPN Yogyakarta oleh PT Freeport Indonesia dan UPN Yogyakarta.


Selasa 4 Maret 2014 saya berkesempatan mengikuti seminar yang diadakan oleh PT Freeport Indonesia (PTFI) dan UPN Yogyakarta. Seminar ini bertajuk “Menuju Pertambangan Indonesia Dengan Zero Accident Untuk Mendukung Pencapaian Indonesia Berbudaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Tahun 2015”. Seminar ini merupakan rangkaian “Road Show” dari PTFI dalam rangka “Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional”. Dan untuk Jogja dipilihlan UPN sebagai tempat diberlangsungkannya seminar tersebut.

Awalnya saya sempat kecewa dengan pelaksanaan seminar tersebut dikarenakan acaranya molor 1 jam dari publikasinya. Seharusnya jam 8, tetapi kami (peserta) baru masuk Auditorium jam 9 pagi. Kekecewaan tersebut akhirnya “terbayar” lunas dengan berbagai macam materi yang dibawakan. Selain itu juga ada penampilan tari tradisional dari saudara kita dari Papua. Menarik sekali… bahkan saya sempat terkagum-kagum dan bangga kita punya saudara seperti mereka.

Acara dimulai kurang lebih hampir 10.00 WIB, diisi sambutan dari pihak perwakilan Dekan UPN dan Ketua Panitia. Yang lebih membuat saya bangga dan campur aduk rasanya adalah di awal kita disuruh menyanyikan Lagu Indonesia Raya. Damn! it was so amazing… I felt, I proud to be Indonesian.

Seperti dikemukakan diawal bahwa seminar ini dari PTFI, jadi siapa saja mereka yang jadi narasumber, here they are:

1.       Mochammad Hartono as Manager Drill and Blast PTFI
2.       Sony Thahyo Suryanto as Manager UG SHE Operations PTFI
3.       Eka Sumarna as Manager OH&S Services & Training PTFI

Sebenarnya masih ada satu lagi, waktu itu dipanggil Pak Arlan dari PTFI bagian Komunikasi atau Humas *cmiiw. Beliau ini yang tampil pertama menerangkan sejarah dan perkembangan PTFI.

Sedikit mengenai tentang K3, seperti kita ketahui keselamatan dan kesehatan kerja (K3) adalah hal yang mutlak sangat penting dimana dan jenis pekerjaan apa saja. Tidak hanya di bidang pertambangan, di perkantoran sekalipun K3 sangat penting.

Dalam Pasal 86 UU Tenaga Kerja No. 13/2013 disebutkan bahwa setiap pekerja/buruh mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas:
a.       keselamatan dan kesehatan kerja;
b.      moral dan kesusilaan; dan
c.       perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai agama.

Kemudian masih ada beberapa peraturan lagi yang membahas tentang (prinsip) keselamatan kerja, antara lain:

a.       Undang-undang No. 1 Tahun 1951 tentang Kerja
b.      Undang-undang No. 2 Tahun 1952 tentang Kecelakaan Kerja
c.       Undang-undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
d.      Permenaker No. 4 Tahun 1995 Tentang Perusahaan Jasa Keselamatan dan   Kesehatan Kerja
e.      Instruksi Menaker RI No. 5 Tahun 1996 Tentang Pengawasan dan Pembinaan K3 pada Kegiatan Konstruksi Bangunan; dan
f.        Permenaker No. 5 Tahun 1996 tentang SMK3
 
Sebegitu pentingnya keselamatan kerja bagi karyawan maka harus diterapkan dan dipraktekan di sebuah perusahaan. Terkadang kecelakaan di sebuah tempat kerja terjadi bukan akibat kurang perhatian perusahaan tidak mengindahkan K3, tapi kelalaian pekerja - tidak peduli dan cenderung cuek terhadap aturan tersebut. Contoh, di sebuah pabrik manufaktur misalnya. Ada kebijakan tidak boleh membawa alat komunikasi (Hp) saat bekerja, tapi masih ada karyawan yang “bisa” membawa Hp dan bahkan menggunakan Hp saat bekerja. Bagaimana jika karyawan tersebut operator mesin? mesin besar lagi.
Dalam seminar tersebut sempat disuguhkan cuplikan video K3 baik dari pihak trainer maupun pihak PTFI. Sangat mendalam, artinya hal sekecil apapun jika kita tidak waspada kecelakaan pun bisa terjadi. Bisa berasal dari kita atau dari teman kerja kita.

Pak Eka Sumarna dalam presentasinya, “mengapa K3 itu penting?” karena menyangkut:
1.       Humanitarianisme
- Nilai tentang hidup manusia dan kesejahteraan.
2.       Hukum
- Formalisasi standar berperilaku tentang yang benar dan yang salah
3.       Biaya
- Cidera, sakit akibat kerja, kematian, kerusakan harta benda
- Penggantian karyawan, waktu, proses produksi, perjalanan, pencatatan, investigasi, legal, dan pelayanan medis, rumah sakit, rehabilatasi dan penyembuhan, dan public image.

Dalam bidang pertambangan yang mempunyai resiko kecelakaan yang lebih besar tentu saja dalam hal safety amat sangat diperhatikan. Bahkan guna menekan tingkat kecelakaan yang terjadi, investasi tinggi dalam K3 tidak perlu ragu-ragu. Pembelian alat untuk mencegah kecelakaan di area pertambangan yang harganya ratusan juta pun "Kenapa tidak?". Soalnya permasalahan K3 ini menyangkut image sebuah perusahaan. Bayangkan saja jika ada iklan lowongan kerja seperti ini:

“Dibutuhkan karyawan untuk sebuah perusahaan tambang
di daerah Kalimantan. Perusahaan kami tiap tahunnya 3 karyawan meninggal dunia”.

Apa kalian masih tertarik dengan iklan lowongan tersebut. Kalau orang waras tidak mungkin akan apply lowongan itu. Oke lah, tidak mungkin ada lowongan yang berbunyi seperti itu, masak iya perusahaan jujur banget. Tapi info dapat kita ketahui dari sumber manapun, apalagi di era sekarang, kita dengan mudahnya mendapat info tentang image sebuah perusahaan.

Ini saya tunjukkan beberapa contoh alat pendeteksi reruntuhan (Monitoring) di area pertambangan PTFI sebagai usaha preventif menangani kecelakaan kerja:
1.       RADAR (Gound probe dan IBIS)
2.       ROBOTIC TOTAL STATION
3.       GPS
4.       EXTENSOMETER
5.       INCLINOMETER
6.       STASIUN CURAH HUJAN
7.       BLASTMATE




Efek kecelakaan kerja ini seperti fenomena gunung es. Artinya yang kelihatan cuma sedikit tapi efek kedepannya sangat besar.



Sebagai gambaran, si Fulan jatuh dari tangga saat bekerja dan kakinya patah. Mungkin biaya pengobatan sekian ratus ribu. Tapi efek kedepannya, dia tidak bisa berangkat kerja otomatis kebutuhan sehari-hari tersendat. Terlebih bagi perusahaan, bisa mengakibatkan terganggunya proses produksi. Jika harus menambah karyawan sebagai pengganti si Fulan, maka harus diadakan rekrutmen baru itu juga makan biaya dan waktu, belum lagi untuk masa training nambah waktu lagi. Maka perlu disadari betapa pentinganya K3 bagi sebuar perusahaan. Sekali lagi bukan hanya perusahaan tambang tapi semua jenis lapangan pekerjaan harus benar-benar memperhatikan K3. Juga dituntut peran aktif dan kesadaran karyawannya sendiri.Terima kasih.

Referensi:
- Bahan Presentasi Seminar Nasional K3 dari PTFI (Selasa 4/3/14)

Jumat, 21 Februari 2014

Buku Kalender Even 2014 Kota Jogja

Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta tiap tahunnya menerbitkan buku saku kelender even kebudayaan. Dari tahun ke tahun bentuknya selalu menarik. Kalau sedang ingat saya selalu ke sana untuk minta secara cuma-cuma, karena memang buku itu gratis dan untuk masyarakat umum. Tapi, kayaknya sosialisasi untuk mendapatkan buku itu kurang. Mungkin beberapa kalangan saja yang mau silahkan datang ke Dinas Kebudayaan Yogyakarta yang berlokasi di Kotabaru, tepatnya sebelah selatan Gramedia atau utara Perpustakaan Kota Yogyakarta.

Tadi siang setelah berkunjung ke Perpustakaan Kota Yogyakarta saya menyempatkan pergi ke sana dan inilah penampakan “Calender of Event 2014 Jogja”. Lebih tebal dan masih dibungkus plastik. Oh ya, sampingnya adalah CD dokumentasi kegiatan selama setahun (tergantung tahun yang dibuat) yang dibuat juga oleh Dinas Kebudayaan, bisa dimiliki secara cuma-cuma. 

 "Calender of Event Jogja 2014"

Lantas bagaimana cara mendapatkan buku tersebut?. Gampang… kalian cukup datang ke Dinas Kebudayaan dan mengatakan apa maksud kalian ke Mas atau Mbak yang jaga di meja “humas”. Kalau bukunya masih nanti akan diambilkan dan tinggal tulis saja buku tamu yang telah disediakan.

Di ruangan tersebut juga ada beraneka macam brosur, leaflet, peta Jogja yang juga bisa miliki secara cuma-cuma. Ini bermanfaat untuk kalian yang suka melihat acara-acara kebudayaan atau yang suka hunting foto kebudayaan. Jadi kalian bisa mengatur jadwal berdasarkan panduan buku tersebut.

Kamis, 20 Februari 2014

Berkunjung ke 3 Store Jogja

Jumat 21 Februari 2013 jam 9 pagi saya menyempatkan diri berkunjung ke 3 Store. Lokasi yang baru sekarang berada di sebelah barat jembatan layang Lempuyangan. Tepatnya, ketika anda dari arah selatan tidak usah ikut jalur jembatan layang Lempuyangan yang naik, tetapi ikut arah jalan yang bawah saja . Setelah melewati jalur rel kereta api anda belok ke kiri, kira-kira 100 m sudah nampak gerai 3 Store tersebut.

3 Store yang sekarang ini dulunya adalah bangunan dengan tipe Indische, tetapi sudah di renovasi sedemikan rupa sehingga nampak nge-pop terutama untuk bagian interiornya.

Tujuan saya pergi ke 3 Store adalah untuk menanyakan perihal kartu 3 saya yang sejak semalam nampaknya tidak ada sinyal sama sekali. Awalnya saya pikir kartu 3 saya rusak, karena sering  dicopot-pasang. Saya masuk ke gerai 3 dan ditanya sama satpamnya.

Satpam “Pagi Mas, bisa saya bantu?”
Saya “Pagi Pak, mau ke CS”

Pak Satpam kemudian memencet tombol antrian dan dikasihlah nomor antrian kepada saya.

Saya duduk, menunggu giliran. Sambil duduk-duduk saya melihat-lihat interior di dalam gerai 3 store tersebut. Karena saya suka dengan hal berbau “pop”, kreatif, dan desain, terbesit untuk mengambil beberapa foto di dalam ruangan tersebut. Kemudian saya minta ijin ke Pak Satpam (gk mungkin lah saya “nylonong” ambil begitu saja).

Saya “Pak, boleh saya mengambil beberapa foto di tempat ini?”

Pak Satpam “maaf Mas, buat apa ya?”

Saya “buat saya upload di blog.”

Pak Satpam “Oh, silahkan Mas…”

Saya ambil beberapa foto, cuma 3 sih… ini beberapa foto yang sempat saya ambil




Tiba giliran saya untuk bertanya ke CS. Saya menanyakan perihal kartu saya yang sempat tidak ada sinyal mulai semalam. Saya buka sim card saya di Hp, kasih ke Mbak CSnya. Di cek, kata mbaknya sudah tidak apa-apa karena memang semalam kondisi jaringan di jogja lagi "trouble". Alamak, kenapa juga tadi pagi saya tidak sempat menghidupkan lagi hp saya. Ya udah, ternyata kartu 3 saya memang tidak bermasalah. Jaringan 3 saja yang memang semalam sedang trouble.

Ok, btw terima kasih Mbak-mbak CS 3 yang sempat melayani saya dan pelanggan 3 lainnya. Tempat yang baru asik, sumpah keren.

Minggu, 16 Februari 2014

Hujan Abu dari Gunung Kelud sampai ke Jogja

Jumat 14 Februari 2014 Gunung Kelud di wilayah Kediri mengeluarkan materi vulkaniknya. Bahkan hujan abu pun sempat sampai ke Jogja dan sekitarnya.

Berikut foto di seputaran rumah saya yang terkena hujan abu.

 Abu vulkanik yang terkena rintik air hujan.

 
Halaman Masjid samping rumah saya jam 7.30 WIB (14/2)

Semalam, Minggu 16 Februari kurang lebih jam 22.00 WIB Jogja diguyur hujan yang lumayan deras. Alhamdulillah hujan akhirnya datang. Harapannya dengan hujan tersebut bisa "menyapu" bersih sisa-sisa abu yang masih menyelimuti kota jogja dan sekitarnya.

Selasa, 04 Februari 2014

"Layang Swara" Pameran Radio Lama di BBY (re-upload)

Sebuah catatan dari pameran yang bertajuk “Pameran Radio Lama: Layang Swara” yang digelar tanggal 13-22 September 2013 di BBY Jl. Suroto 2 Kotabaru, Yogyakarta.

Sesuai namanya “Pameran Radio Lama”, menampilkan koleksi-koleksi radio lama dari para kolektor. Ruangan di-setting sedemikian rupa dikelompokkan menurut tahun pembuatan radio mulai tahun 40an, 50an dan 60an.

Bertemu dengan salah satu pemilik yang koleksinya juga dipamerkan, Bp. Hendro namanya. Beliau menerangkan bahwa koleksi radio yang paling lama adalah Radio buatan Belanda yang dibuat tahun 1920 merk Philips dan biasa disebut tipe “Bandosa” (bentuknya mirip Bandosa) atau Katredal, dengan pemilik atas nama Bp. Handoka. Lagi menurut beliau, keberadaan radio tak akan pernah tergantikan seiring perkembangan jaman. Tanpa radio pembacaan (berita) proklamasi tak akan bisa menyebar ke seluruh Indonesia (bahkan dunia). Sambil menerangkan tentang sejarah singkat radio pada jaman dulu, beliau menujukkan salah satu barang yang dipamerkan, yaitu sebuah pemutar piringan hitam. Diputarnya lah alat tersebut dan mendadak BBY berubah seperti suasana jaman dulu. Perlu dicatat, bahwa semua koleksi yang dipamerkan di BBY masih bisa berfungsi normal.

Pada jaman penjajahan Jepang, kepemilikan sebuah radio diatur sangat ketat. Saya sempat melihat secarik kertas berwarna coklat yang berisi tentang “aturan” tersebut, berikut cuplikannya:

Ma’loemat No. 32 “Orang-orang jang mempoenjai pesawat radio penerima, haroes membawa barangnja itoe ke tempat yang telah ditentoekan dalam fatsal II, menoeroet hari tanggal seperti di bawah ini, dan haroes diatur seperloenja” (Pemerintah Balatentara Dai Nippon. Di Jokjakarta. Jokjakarta, 19 Juni 2602)

Pada jaman dulu radio juga kena pajak, terlihat di sebuah etalase secarik lembar bukti pembayaran pajak radio yang ditempeli (mirip) meterai.

Bagi teman-teman yang penasaran dengan pameran tersebut atau sekedar ingin melihat-lihat wujud radio jaman dulu, besok kesempatan terakhir Minggu (22/9) tempat di Bentara Budaya Yogykarta (BBY).

Berikut beberapa foto radio lama yang dipamerkan.
Radio "Bandosa" atau Katredal, koleksi yang paling tua.
Suaranya "nge-soul".
Salah satu cover Piringan Hitam "Senja Kaimana"

 Gramophone #1
Gramophone #2
Bukan hanya radio, Poster dengan cita rasa jaman dulu juga melengkapi di setiap sudut ruang pameran.
Daleman radio lama (radio tabung).
Radio generasi baru - radio transistor tahun 60an.
Upload pertama di sini klik
(Teks dan foto oleh Arif Nur Rokhman)

Jumat, 24 Januari 2014

3 J (Jatibening - Jogja - Jombang) #4

Perjalanan dengan kereta dari Jogja menuju Jombang terasa cepat karena waktu itu kami isi dengan saling canda, ngobrol apa saja. Sesekali temen saya dapat kabar bahwa Kakaknya sudah menunggu di Stasiun Jombang. Sementara “dag-dig-dug” di dalam hati kecil saya, tidak tahu apa yang dirasa pokoknya saya berasa gimana gtu..

Yups, hampir jam 11.00 siang akhirnya Kereta berhenti di Stasiun Jombang. Segera kami turun dari Kereta dan angkat barang bawaan kami. Diujung pintu keluar sudah menunggu Kakaknya temen saya. 

Mas Agung “yuk cepet, kalian nanti ikutin bapak ini dan naik itu. Saya nanti tak naik motor.”
Kami waktu itu sudah di-charter kendaraan “khusus”, Betor alias Becak Motor. Kejutan banget bagi kami waktu itu. Baru pertama kali saya naik Betor di Jombang. Ternyata jarak rumah yang kami tuju dari stasiun tidak jauh. Cukup 10 menit bahkan kurang mungkin dan sudah sampai. Kami kasih upah ke Pak Betor Rp15.000, sebenarnya sudah ditawar sama Kakaknya teman saya Rp10.000, tapi karena temen saya merasa kasihan akhirnya dia nambahi Rp5000. Kemudian kami berjalan sebentar melewati gang dan sampai di rumah yang kami tuju.

Rumahnya sangat “Homy” dengan berlantai tegel dari traso yang mungkin sekarang jarang pada make. Kami istirahat di ruang tamu. Disuguhi teh hangat, risoles, lemper, sembari kami menyusun dudukan untuk bayi yang dibawa dari Jakarta oleh temen saya. Awalnya agak rumit sih, yah tapi berbekal buku panduan yang ada akhirnya kami bisa merancang dudukan bayi dengan sempurna.
Dudukan (kereta) bayi sudah terangkai, tinggal “Stroller” yang belum dirangkai. Stroller sih mudah tidak serumit merangkai Kereta Bayi. 

Waktu Dzuhur sudah tiba, saya ijin keluar cari masjid untuk segera sholat. Sebenarnya saya cari masjid juga untuk “nunut” di WC karena perut saya waktu itu tidak bisa diajak kompromi. Jalan kearah selatan menyeberangi jalan akhirnya dapat masjid. Alhamdulillah banget dapat Masjid, selesai BAB kemudian sholat. 

Menghabiskan beberapa jam di rumah itu, ngobrol sana-sini dengan Mas Agung. Ditanya ini-itu… haduuhh…

Mata nampaknya sudah lelah, pengen tidur. Temen saya juga lelah, ngantuk ingin tidur. Alhamdulillah ditawari kamar, jadi untuk sementara waktu kami bisa sedikit merebahkan dan mengistirahatkan badan kami. Jam 3 kami harus bangun karena nanti jam 4an sore kami sudah harus pamit naik kereta balik ke Jogja.

Kurang lebih jam 3 sore, saya dibangunkan oleh temen saya. Saya langsung bangun, cuci muka, wudhu kemudian ashar. Lumayanlah walau gk pulas tidur setidaknya bisa merebahkan badan sebentar. Kelar semua, bersantai sebentar di ruang tamu sambil memegang Boneka yang ditaruh di sofa. Sementara riuh lucu menyelimuti kamar itu. Arjun, ya Arjun nama bayi Kakaknya temenku, mau dimandikan. 

Masih tergambar jelas di otak ku, bagaimana suasana dan riuh rame di rumah dan ruangan itu. Terima kasih buat temenku yang ajak “jalan-jalan” sampai ke Jombang naik Kereta Api. Semoga gk berhenti sampai disini pengalaman seru ini.

Jam 4 sore waktunya bergegas dan pamit untuk segera balik ke Jogja. Jam 16.47 WIB Kereta Api yang membawa kami balik ke Jogja akan berangkat. Naik Betor dan diantar sampai ke stasiun Jombang. Terima kasih buat Mas Agung dan Mbak Intan serta semua keluarga yang ada disana. Terima kasih semua atas sambutannya, maaf jika saya merepotkan. Semoga kelak si Arjun menjadi anak yang sholeh dan berbakti kepada kedua orang tuanya.

Perjalanan balik ke Jogja lumayan ringan, artinya tidak membawa barang-barang yang besar seperti waktu kami datang dari Jogja. Yah, wajarlah kalau membawa “oleh-oleh” atau tititpan dari Jombang tapi masih dalam batas wajar. 

Sancaka Sore duduk di “Seat” 9C dan 9D, kalau lancar kami akan tiba di Jogja pukul 20.29 WIB. Kami sudah “boarding pass” masuk peron dan Mas Agung masih menunggu kami. Sembari dirinya ngobrol dengan adiknya, saya duduk aj di kursi nunggu Kereta Api datang. Kira apa yang mereka berdua omongin, sayup terdengar kayaknya ngobrolin tentang saya.

Kereta Sancaka tujuan Jogja sudah memasuki stasiun segera kami masuk. Wah… akhirnya kami akan pulang, senang sih pulang tapi momen seperti ini bakalan susah terulang. Miss you…

Cuma lelah yang tersisa dan sedikit tawa canda cerita di rumah Mas Agung, Mbak Intan dan anaknya. Rasa kantuk pun tak tertahan, mau tidur tidak bisa ahh serba salah. Tapi setidaknya memejamkan mata sudah cukup untuk membuat saya “istirahat”.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam-am kereta Sancaka tiba di Stasiun Tugu. Kami turun dan langsung Sholat di Mushola St. Tugu. Bergantian, temen saya sholat saya nunggu barang bawaan dan begitu sebaliknya. Sepertinya temen saya agak kurang enak badan perutnya mual dan hampir muntah *panik*. Saya antar teman saya makan Soto Sulung di Jl. Solo depan UIN biar perut agak enakan dikit, lagian juga kami lapar.

Selesai makan Soto saya antar temen saya pulang ke rumah Buleknya di Condongcatur Sleman. Alhamdulillah gk kena hujan dan cuaca lumayan bersahabat. Hoaaahh… nice journey, what a life! Smoga dapat pergi jalan-jalan sekereta lagi ya… terima kasih sudah ajak saya nemani kamu berkunjung ke Jombang lihat si Arjun.

Motret 35mm Belum Mati!

Siapa bilang hobi motret dengan kamera manual menggunakan film 35mm sudah mati? memang sudah tidak seramai dulu, namun komunitas penyuka m...

Cari Blog Ini